2026-05-20 HaiPress


DEPOK, iDoPress -Di tengah gempuran jam tangan digital dan smartwatch yang terus bermunculan, keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan justru masih dicari sebagian masyarakat.
Bukan sekadar memperbaiki mesin yang mati atau mengganti baterai, para tukang servis jam kini turut menjadi “penjaga” berbagai kenangan yang melekat pada arloji lama milik pelanggan.
Di lapak-lapak servis sederhana di pinggir jalan seperti milik Safrizal (74) dan Ade (78) di kawasan Depok, Jawa Barat, jam tangan lama dengan usia belasan hingga puluhan tahun masih rutin datang untuk diperbaiki.
Sebagian merupakan jam warisan keluarga, sebagian lain merupakan koleksi vintage yang kembali diminati anak muda.
Salah satu pelanggan, Hendra (48), mengaku tetap mempertahankan jam tangan lamanya karena memiliki nilai emosional yang besar.
Jam tersebut telah ia kenakan hampir 15 tahun sejak pertama kali diberikan oleh ayahnya saat dirinya diterima bekerja.
“Kalau jam ini saya sudah pakai hampir 15 tahun. Dulu dikasih sama almarhum bapak waktu saya pertama kali diterima kerja. Waktu itu beliau bilang, ‘Biar kamu ingat waktu dan tanggung jawab'," kata Hendra saat ditemui di lapak milik Ade di Citayam, Selasa (19/5/2026).
Baginya, jam itu bukan sekadar penunjuk waktu. Arloji tersebut selalu menemaninya dalam berbagai fase penting kehidupan.
Ia menuturkan, jam itu menyimpan banyak kenangan karena selalu menemaninya dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari bekerja, menikah, hingga saat anaknya lahir.
Menurut Hendra, setiap melihat jam tersebut dirinya selalu teringat pada momen ketika sang ayah memasangkan jam itu ke tangannya.
“Yang paling saya ingat itu waktu pertama diterima kerja. Saya masih ingat beliau sendiri yang masangin jam ini ke tangan saya,” ujarnya.
Meski kondisi jamnya beberapa kali rusak, Hendra mengaku tidak pernah terpikir untuk menggantinya dengan yang baru karena merasa jam tersebut memiliki nilai emosional yang tidak tergantikan.
Ia menilai, membeli jam baru mungkin lebih praktis, tetapi tidak akan memberikan perasaan yang sama seperti mempertahankan barang lama yang penuh cerita.
“Karena rasanya enggak tergantikan. Kalau beli baru mungkin lebih gampang lebih modern, tapi ya beda rasanya. Jam ini sudah ikut perjalanan hidup saya lama sekali,” tutur dia.
Selain alasan emosional, Hendra juga merasa servis jam masih lebih terjangkau dibanding membeli jam baru dengan kualitas yang setara.
Namun baginya, alasan utama tetap karena rasa sayang terhadap barang lama yang sudah melekat dalam hidupnya.
“Daripada beli baru yang sekarang harganya lumayan, servis kadang cuma ganti baterai atau bersihin mesin. Tapi buat saya bukan cuma soal murahnya juga, lebih karena sayang kalau dibuang,” kata Hendra.
Ia menambahkan, jam lama memiliki karakter dan sejarah tersendiri yang tidak dimiliki barang baru.
“Kita tahu sejarah barang itu. Lecetnya juga kadang jadi kenangan sendiri. Beda sama jam baru yang mungkin bagus, tapi belum punya cerita apa-apa,” ujarnya.
Hendra mengaku sudah sekitar lima tahun menjadi pelanggan tetap di lapak servis jam tersebut karena merasa cocok dengan ketelitian Ade dalam menangani jam-jam lama.
Menurut dia, keberadaan tukang servis jam tangan masih sangat dibutuhkan, terutama bagi pemilik jam lawas atau jam warisan keluarga yang memiliki komponen rumit.
“Soalnya enggak semua orang bisa bongkar atau ngerti mesin jam. Apalagi jam lama yang komponennya kecil-kecil dan rumit,” kata Hendra.
iDoPress/HAFIZH WAHYU DARMAWAN Ade (78) saat memperbaiki jam tangan milik pelanggan, Selasa (19/5/2026)Anak Muda Mulai Melirik Jam VintagePolda Metro Tegaskan Belum Setop Penyidikan Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
28 Tahun Lalu Soeharto Nyatakan Mundur Setelah Aksi Demonstrasi Bertahan 10 Hari
Dilarang Jualan di Trotoar, Pedagang Hewan Kurban di Bogor Minta Disediakan Lapak Khusus
Pemerintah Pusat Diminta Ambil Alih Penanganan Seluruh Pelintasan Sebidang
2 Bus Transjakarta Tabrakan di Kampung Rambutan Jaktim, Diduga Disetir Pramusapa
Imigrasi: Indonesia Bukan "Safe Haven" bagi Orang yang Tidak Bermanfaat
©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games