2024-08-16 HaiPress

iDoPress - Pada awal Agustus lalu,Google dinyatakan bersalah atas gugatan monopoli bisnis mesin pencarian (search engine) oleh Hakim Federal Amit Mehta dari Pengadilan Distrik Columbia.
Gugatan ini diajukan ke Departemen Kehakiman (Department of Justice/DOJ) AS dan sejumlah koalisi negara bagian AS pada 2020.
Setelah putusan pengadilan tersebut,Departemen Kehakiman AS sedang memeriksa beberapa kemungkinan opsi penyelesaian.
Salah satu opsi penyelesaian yang paling agresif adalah memaksa Google untuk memecah (divestasi) bisnis intinya. Setidaknya begitulah menurut sumber yang akrab dengan masalah ini kepada outlet media Bloomberg.
Baca juga: Google Dinyatakan Bersalah soal Gugatan Monopoli Mesin Pencari
Jika Departemen Kehakiman keukeuh dengan rencana pemisahan,unit yang paling mungkin untuk divestasi adalah sistem operasi Android dan peramban web Google Chrome,kata sumber anonim.

GeekInsider.com Ilustrasi
Menurut sumber tersebut,divestasi sistem operasi Android,yang digunakan pada sekitar 2,5 miliar perangkat di seluruh dunia,merupakan salah satu upaya hukum yang paling sering dibahas oleh pengacara Departemen Kehakiman.
Dalam keputusannya,Hakim Mehta menemukan bahwa Google mengharuskan pembuat perangkat untuk menandatangani perjanjian guna memperoleh akses ke aplikasinya seperti Gmail dan Google Play Store.
Perjanjian tersebut juga mengharuskan widget pencarian Google dan browser Chrome dipasang pada perangkat sedemikian rupa sehingga tidak dapat dihapus. Ini otomatis mencegah mesin pencari lain untuk bersaing.
Di samping itu,untuk kasus browser Chrome,Google dilaporkan membuat kesepakatan bernilai hingga 26 miliar dollar AS bersama pengembang browser dan pembuat ponsel,seperti Apple,Samsung,Mozilla,dan lainnya. Sebanyak 20 miliar dollar AS diantaranya diberikan kepada Apple Inc.
Baca juga: 7 Fitur AI di Google Pixel 9 Series,Gemini Live Salah Satunya
Tujuannya untuk menjadikan Google Search sebagai mesin pencari default di browser dan ponsel.
Dengan perjanjian tersebut,Google bisa mengamankan aksesnya terhadap sejumlah besar data pengguna yang membantu mempertahankan dominasi dan cengkeramannya di pasar.
Selain itu,berkat hak istimewa menjadi browser default itu,Google dilaporkan menguasai sekitar 90 persen pangsa pasar pencarian umum,jauh melampaui pesaing terdekatnya,Bing.
Sekitar dua pertiga dari total pendapatan Google berasal dari iklan pencarian,yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 miliar dollar AS pada tahun 2020,menurut kesaksian dari persidangan tahun lalu.
Jadi,Departemen Kehakiman AS disebut juga berupaya untuk memaksakan kemungkinan penjualan AdWords,platform yang digunakan Google untuk menjual iklan berbasis teks.
Putusan Mehta juga menyatakan Google memonopoli iklan yang muncul di bagian atas halaman hasil pencarian untuk menarik pengguna ke situs web,yang dikenal sebagai iklan teks pencarian.
Tur Jiangsu “Travelogue of China 2026” Resmi Berakhir, Soroti Inovasi, Keterbukaan, dan Pembangunan Berorientasi pada Masyarakat
PT Otto Media Grup Gandeng Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand, Kreator, dan Rantai Pasok
Tangkap Hakim Harus Izin Ketua MA, Wamenkum: Jaga Independensi Kehakiman
Buronan Interpol Ditangkap Imigrasi di Bali, Sempat Kabur Naik Jet Pribadi lalu Dipaksa Putar Balik
Edarkan Sabu Tempel di SPBU, 2 Kurir di Jakbar Dijanjikan Upah Rp 20 Juta
BEM UI Bakal Demo di Bundaran HI Besok, Tuntut Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games