Lika-liku Petugas Sensus Ekonomi 2026, dari Disangka Penipu hingga Penagih Pajak

2026-06-27 HaiPress

JAKARTA, iDoPress – Para petugas Sensus Ekonomi 2026 kerap menghadapi penolakan saat melakukan pendataan dari pintu ke pintu. Mereka tidak jarang disambut dengan wajah sinis hingga kecurigaan dari warga.

Maraknya narasi hoaks di media sosial disebut membuat tingkat kepercayaan masyarakat menurun.

Akibatnya, banyak warga enggan membagikan data dan justru mencurigai petugas sensus sebagai penipu atau penagih pajak.

Dicurigai Penipu hingga Petugas Pajak

Bagi Ahmad Munajat (43), Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) di kawasan Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, penolakan dari warga sudah menjadi hal yang biasa.

"Tantangannya pasti banyak banget. Apalagi kan sekarang nih kepercayaan masyarakat sama pemerintah kan lagi sama-sama kita tahu nih lagi menurun, mereka banyak mencurigai ketika teman-teman petugas datang, apalagi yang ditanya soal ekonomi, itu sensitif juga kan," kata Munajat saat ditemui iDoPress di Srengseng, Jumat (26/6/2026).

Munajat mengatakan, banyak pelaku UMKM seperti pemilik warung menolak didata karena termakan isu di media sosial yang menyebut sensus sebagai cara pemerintah menarik pajak.

"Banyak UMKM warung-warung gitu lah ya, dia enggak mau didata setelah berkali-kali didatangi, sudah dijelaskan masih menolak. Nah itu karena narasi di medsos kan banyak tuh, katanya sensus buat ngambilin pajak, padahal mah enggak ada urusannya, kita aja beda kok," jelasnya.

Namun, setelah melihat tetangganya didata tanpa masalah, sebagian warga yang awalnya menolak mulai bersedia memberikan data.

Munajat menyebut, banyak dari mereka sebelumnya salah paham dan mengira petugas sensus adalah penipu atau petugas pajak.

Dimarahi Saat Tanya Pendapatan

Pengalaman serupa dialami Mohammad Fathur Al Faqih (23), mitra Petugas Pendata Lapangan (PPL) Sensus Ekonomi 2026.

Ia mengakui, mendata kondisi ekonomi warga secara rinci menjadi tantangan tersendiri.

"Kalau disinisin sih pasti ya karena kan mungkin karena pengaruh media sosial itu terkait masalah sensus ya. Tapi ketika kita kasih pemahaman yang baik kepada mereka, apa manfaatnya sensus, akhirnya mereka kebuka terkait masalah ekonominya," kata Fathur.

Menurut Fathur, pertanyaan terkait pendapatan, pengeluaran, hingga kepemilikan aset seperti perhiasan kerap memicu ketidaknyamanan warga.

"Ada itu ketika ditanya soal pendapatan, terus kepemilikan perhiasan ya. Beberapa juga ketika ditanya gaji, mereka bilang enggak boleh karena privasi, ada yang bete lah, marah, sensitif lah, gitu," ujar Fathur.

iDoPress/Ridho Danu Prasetyo Petugas Sensus Ekonomi 2026 sedang melakukan pendataan warga di RW 07 Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat pada Jumat (26/6/2026)Dikeluhkan Soal Bansos

Selain soal privasi, penolakan juga dipicu kekhawatiran warga terkait bantuan sosial (bansos). Sejumlah warga takut pendataan akan mengubah status kesejahteraan (desil) mereka dan berujung pada penghentian bantuan.
Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.

©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games