2026-06-16 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai, reformasi tidak hanya perlu dilakukan di tubuh Polri, tetapi juga di berbagai lembaga penegak hukum dan negara lainnya.
Ia menilai, tidak adil jika sorotan reformasi hanya diarahkan kepada Polri saja.
“Karena juga tidak fair kalau kita bicara kenapa Polri yang didesak-desak terus. Saya juga berpikir gitu. Ngapain saya desak-desak Polri diperbaiki, dihujat. Wong TNI-nya sama. Harus diperbaiki dan banyak dihujat juga,” kata Mahfud, dalam tayangan Gaspol iDoPress, Selasa (16/6/2026).
“Kejaksaan Agungnya sama, pengadilannya sama. Pengacara-pengacaranya yang kayak kita yang di luar tuh, sama ini rusak semua,” ucap dia.
Karena itu, Mahfud menekankan perlunya kepemimpinan yang kuat yang disertai kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk melakukan perbaikan.
“Kalau ingin bangsa ini selamat. Kalauenggak ya sudah menggelinding saja nanti akhirnya pecah sendiri, sudah gitu,” kata dia.
Mahfud sebagai anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) menyebut, proses lahirnya Undang-Undang Polri tidak mengikuti kaidah pembentukan hukum yang baik.
Dalam hal ini, Mahfud menjelaskan bahwa setiap produk hukum pada dasarnya memang tidak bisa dilepaskan dari proses politik.
Namun, ia menekankan bahwa kualitas suatu produk hukum ditentukan oleh proses pembentukan dan penegakannya.
Karena itu, menurut Mahfud, ada produk hukum yang baik dan ada yang buruk, tergantung pada apakah prosesnya mengikuti kaidah pembentukan hukum yang benar atau tidak.
Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu pun mengutip teori autocratic legalism, yakni praktik pembentukan undang-undang oleh pemerintah dan lembaga politik yang di luar dari keinginan rakyat.
Menurut Mahfud, salah satu ciri praktik tersebut adalah minimnya ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi proses pembentukan undang-undang.
“Kita kan tidak tahu kapan nih dibahas oleh rakyat, tiba-tiba jadi,” ujar dia.
Berdasarkan teori yang dikemukakan akademisi University of Chicago Kim Lane Scheppele itu, menurut Mahfud, penguasa sembunyi-sembunyi untuk melenggangkan suatu aturan.
“Kalau tidak bisa sembunyi-sembunyi karena rakyat telanjur tahu, nanti ya diuji ke MK, MK-nya dalam tekanan, itu di mana-mana. Nanti kalau tidak bisa juga, dibuat peraturan pelaksanaannya agar didominasi oleh kekuatan politik tertentugitu. Itu, itu ciri autocratic legalism,” ujar dia.
Satpam Bundaran HI Masih Trauma, Belum Siap Lapor Polisi soal Cekcok dengan Sopir Alphard
Anggota DPR Ingatkan Operator Tak Naikkan Tarif usai Putusan MK soal Kuota Internet
Menko Polkam Sebut Pelarangan Vape Hanya Berlaku bagi yang Terkait Narkoba
Kejagung: Sidang Etik Febrie Adriansyah Menunggu Proses Pidana
Kejagung Jelaskan Alasan Febrie Adriansyah Masih Berstatus Saksi dalam Sprindik TPPU
Jakarta Triathlon 2026 Digelar di Ancol 13 September, Buka Kategori Anak hingga Lansia
©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games