2026-05-28 HaiPress




JAKARTA, iDoPress - Sistem ranking di sekolah disebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai perankingan berpotensi memicu perundungan. Apakah ranking masih relevan?
Di banyak sekolah, praktik ranking formal memang tidak lagi diumumkan secara terbuka seperti dulu.
Namun, sebagian sekolah masih menerapkannya secara terbatas, biasanya saat pembagian rapor atau evaluasi akademik tertentu.
Lantas, masih relevankah sistem ranking dipertahankan?
Di sisi lain, pendapat soal ranking masih terbelah. Sebagian menganggap sistem tersebut penting sebagai pemicu semangat belajar, sementara yang lain melihatnya sebagai sumber tekanan karena menyederhanakan kemampuan siswa hanya melalui angka.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji termasuk pihak yang mempertanyakan relevansi ranking di sekolah saat ini.
Menurut dia, asumsi dasar sistem ranking telah terbukti tidak berpijak pada kondisi material di ruang kelas.
“Sistem ranking mengasumsikan semua anak punya titik start, minat, dan kecerdasan yang seragam. Ini adalah kemalasan akademis dalam menilai manusia,” kata Ubaid kepada iDoPress, Rabu (27/5/2026).

iDoPress/Syakirun Ni'am Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji
Ia menilai, mengukur siswa dengan satu alat ukur lalu mengurutkannya dalam daftar peringkat berpotensi mengabaikan keragaman kemampuan anak.
“Mengukur kecerdasan musisi, calon atlet, dan calon ilmuwan dengan satu alat ukur lalu merankingnya adalah bentuk ketidakadilan,” kata Ubaid.
Meski praktik ranking formal mulai berkurang, realitas pendidikan menunjukkan pemeringkatan belum benar-benar hilang.
Siswa masih menghadapi berbagai bentuk kompetisi akademik, mulai dari kelas unggulan, olimpiade, jalur prestasi, hingga seleksi masuk perguruan tinggi yang bertumpu pada capaian nilai.
Bagi Ubaid, problem utama bukan sekadar daftar ranking di kelas, melainkan cara sistem pendidikan membangun persaingan antarsiswa.
Menurut dia, sekolah semestinya menggeser orientasi kompetisi dari mengalahkan orang lain menjadi pengembangan diri.
“Kompetisi jangan diarahkan untuk mengalahkan teman, tetapi mengalahkan keterbatasan diri sendiri,” kata dia. Ia juga mendorong metode pembelajaran lebih kolaboratif agar siswa tidak tumbuh dalam tekanan saling bersaing.
50 Days to Go: Step into Her World at Interfilière Shanghai 2026
Nyalakan Semangat Keterampilan, WorldSkills Shanghai 2026 Mengumumkan Angkatan Kedua Duta Impian
Prabowo Terbang ke Kalimantan untuk Cek Penanganan Karhutla
6 Ruko di Bekasi Ambruk Mendadak, Pedagang: Tiba-tiba Barengan Jatuh
Respons Kemenlu soal Negara Tetangga Kirim Nota Keberatan Imbas Asap Karhutla
Menghidup Kembali Pasal 33
©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games