2026-04-24 HaiPress


JAKARTA, iDoPress – Keberadaan perpustakaan mini di sejumlah taman kota di Jakarta belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh warga.
Fasilitas literasi yang diharapkan menjadi ruang baca terbuka justru kerap terkunci dan tidak dapat diakses, sehingga fungsinya sebagai sarana edukasi publik menjadi terbatas.
Salah satu pengunjung, Annes (28), mengaku sempat tertarik saat pertama kali melihat perpustakaan mini tersebut.
Namun, rasa penasaran itu berubah menjadi kekecewaan ketika mengetahui fasilitas itu tidak bisa diakses.
“Waktu saya lihat di sini, saya sempat tertarik karena bentuknya lucu dan posisinya juga dekat pintu masuk. Tapi pas didekati ternyata dikunci, jadi agak kecewa,” kata Annes saat ditemui di Tebet Eco Park, Kamis (23/4/2026).
Menurut Annes, jika konsepnya memang ditujukan untuk umum, perpustakaan tersebut seharusnya dapat diakses bebas oleh pengunjung.
Ia menyarankan penerapan sistem sederhana, seperti membaca di tempat dan mengembalikan buku ke rak setelah selesai.
“Kalau memang konsepnya untuk umum, harusnya bisa diakses bebas. Minimal orang bisa buka, baca sebentar, lalu dikembalikan lagi ke tempatnya,” tutur Annes.
Ia juga menyoroti kondisi buku yang terlihat kurang terawat.
Dari luar, beberapa koleksi tampak kusut dan tidak tertata dengan baik, yang dinilai dapat mengurangi minat baca pengunjung.
“Menurut saya, kalau terus dikunci, orang jadi tidak merasa itu fasilitas yang bisa digunakan. Lama-lama malah dilupakan,” ucap Annes.
Ia berharap perpustakaan mini dapat dibuka secara rutin dan koleksinya diperbarui dengan buku-buku ringan yang menarik, terutama saat akhir pekan ketika taman ramai pengunjung.
Keluhan serupa disampaikan Rianti (21), mahasiswa yang ditemui di Taman Suropati.
Ia mengaku sempat mencoba membuka perpustakaan mini, tetapi gagal karena terkunci.
“Saya sebenarnya cukup tertarik dengan konsep perpustakaan mini seperti ini. Buat mahasiswa atau pelajar, ini bisa jadi tempat baca gratis yang cukup membantu,” ujar dia.
Namun, keterbatasan akses menjadi kendala utama yang membuat fasilitas tersebut tidak bisa dimanfaatkan.
Selain itu, kondisi buku yang terlihat rusak dari luar juga menjadi perhatian.
“Tadi saya sempat coba buka, tapi ternyata tidak bisa. Dari situ saja sudah kelihatan kalau aksesnya terbatas,” kata Rianti.
Ia menambahkan, beberapa buku terlihat sobek dan tidak tertata rapi, yang berpotensi menurunkan minat baca masyarakat.
“Kalau bukunya tidak terawat, orang juga jadi kurang tertarik untuk membaca. Apalagi kalau sudah terlihat rusak,” ucap Rianti.
Menurutnya, pengelolaan di ruang terbuka memang tidak mudah, terutama terkait risiko kerusakan akibat cuaca atau kehilangan buku.
Tur Jiangsu “Travelogue of China 2026” Resmi Berakhir, Soroti Inovasi, Keterbukaan, dan Pembangunan Berorientasi pada Masyarakat
PT Otto Media Grup Gandeng Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand, Kreator, dan Rantai Pasok
Tangkap Hakim Harus Izin Ketua MA, Wamenkum: Jaga Independensi Kehakiman
Buronan Interpol Ditangkap Imigrasi di Bali, Sempat Kabur Naik Jet Pribadi lalu Dipaksa Putar Balik
Edarkan Sabu Tempel di SPBU, 2 Kurir di Jakbar Dijanjikan Upah Rp 20 Juta
BEM UI Bakal Demo di Bundaran HI Besok, Tuntut Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games