Ibrahim Arief Sebut Kasusnya Janggal Sejak Awal, Sudah Digeledah Saat Belum Jadi Saksi

2026-04-23 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Eks konsultan teknologi di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Ibrahim Arief menilai kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook yang menjeratnya sangat janggal.

Ibam, sapaan akrabnya, menyebutkan kejanggalan itu bermula sejak tahap penyelidikan, di di mana rumahnya digeledah terkait perkara ini ketika ia belum pernah dipanggil sebagai saksi.

“Sejak awal saya merasa proses yang saya hadapi penuh dengan kejanggalan. Saya digeledah pada tanggal 23 Mei 2025 di mana waktu saya belum pernah dipanggil sebagai saksi sama sekali,” ujar Ibrahim saat membacakan pleidoi pribadi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Dua minggu setelah rumahnya digeledah, Ibam diumumkan sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam perkara.

Ibam pun mempersoalkan atribusi yang disematkan kepadanya saat itu, yakni staf khusus menteri.

Padahal, ia bukan staf khusus, melanikan konsultan untuk Kemendikbudristek yang berasal dari pihak eksternal.

“Fakta bahwa saya bukan seorang staf khusus menteri juga adalah satu hal yang seharusnya mudah diverifikasi pada tahap penyelidikan karena jumlah pejabat staf khusus menteri sangat terbatas dan rekam jejaknya tersimpan dengan baik pada kementerian,” kata Ibam.

Kejanggalan ini semakin terasa beberapa minggu setelah dia diperiksa oleh Kejagung.

Pada tanggal 24 Juni 2025, Ibam dihubungi oleh seseorang yang diyakininya sebagai perantara dari penyidik.

Perantara ini menyampaikan pesan dari penyidik yang tidak disebutkan namanya.

“Dia diminta oleh seseorang dalam proses penyidikan yang berlangsung untuk menyampaikan ke saya agar saya mau, saya kutip, ‘membuat pernyataan yang mengarah ke atas’ dan jika saya tidak mau maka kasusnya akan kami perluas,” jelas Ibam.

Pesan ini disampaikan ketika Ibam masih berstatus sebagai saksi, belum menjadi tersangka.

Perantara ini juga menyampaikan, penyidik merasa kasihan pada Ibam karena menemukan obat-obatan yang biasa dikonsumsinya.

“Penyampaian verbal tersebut disertai dengan kata-kata, ‘Tolong beritahu, saya kasihan dengan Mas Ibam ketika geledah rumahnya saya bisa lihat obatnya menumpuk dan dia sakit-sakitan,” lanjut Ibam.

Ucapan belas kasihan ini membuat Ibam yakin pemberi pesan merupakan salah satu penyidik yang ikut menggeledah rumahnya.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.

©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games