2025-01-10 IDOPRESS

iDoPress - Bukalapak mengumumkan penutupan layanan marketplace produk fisik pada Selasa (7/1/2025). Dengan penutupan ini,layanan marketplace Bukalapak tidak lagi tersedia untuk pelapak atau pedagang yang selama ini menjual produk fisik (seperti gadget,pakaian,dan sebagainya) di platform tersebut.
Nantinya,Bukalapak hanya akan menjual produk virtual,seperti token listrik dan pulsa.
Selama 15 tahun beroperasi,bisnis marketplace Bukalapak cukup menorehkan prestasi. Tahun 2021,Bukalapak sempat menjadi marketplace dengan trafik tertinggi nomor tiga di Indonesia.
Tingginya trafik turut disumbang oleh perilaku konsumen yang kala itu banyak beralih ke online lantaran pandemi Covid-19.
Pada Februari 2021,Bukalapak mencatat traffic share marketplace sebesar 8,23 persen dengan jumlah kunjungan bulanan sebanyak 13,58 juta,menurut data dari Similar Web.
Di peringkat pertama,terdapat Tokopedia yang mencatat 32,04 persen jumlah traffic share dengan jumlah kunjungan bulanan 129,1 juta.
Kemudian,peringkat kedua ada Shopee dengan traffic share sebesar 29,78 persen dan jumlah kunjungan bulanan sebanyak 120 juta.
Baca juga: Sejarah Bukalapak,15 Tahun Berdiri hingga Tutup Layanan Marketplace

KOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma Pertiwi Bukalapak tutup penjualan produk fisik mulai Januari 2025 dan beralih ke penjualan produk virtual. Bagaimana sejarah perkembangan Bukalapak di Indonesia?
Di tahun 2021 juga,selain turut mendominasi traffic marketplace,Bukalapak juga mencatat rekor dengan menjadi startup “Unicorn” pertama yang berhasil melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).
IPO saham Bukalapak dilakukan pada 27 Juli hingga 30 Juli 2021 di Bursa Efek Indonesia. Dengan kode emiten "BUKA",Bukalapak menjadi startup Unicorn Indonesia pertama yang listing di BEI pada 6 Agustus 2021.
Selain itu,nilai IPO Bukalapak juga menjadi yang terbesar sepanjang sejarah BEI. Saat itu,saham Bukalapak dibuka dengan harga Rp 850 per lembar.
Mereka menawarkan 25,7 miliar lembar saham,sehingga bisa mencapai target IPO sebesar Rp 21,9 triliun.
Setelah IPO,banyak investor memborong saham Bukalapak sehingga sempat meroket ke angka 24,71 persen ke level Rp 1.060 per lembar saham (dari Rp 850 penawaran perdana).
Alasan para investor memborong saham BUKA tak lepas dari status startup Unicorn pertama yang melantai di bursa saham.
Baca juga: Dulu Berstatus Startup Unicorn,Kini Bukalapak Tutup Layanan Marketplace
Kala itu,BEI menyebut sebanyak 96.000 investor mengikuti pelaksanaan IPO Bukalapak.
Setelah mencapai harga tertinggi,harga saham Bukalapak terus merosot. Akan tetapi,nilai saham BUKA terus "babak belur".
Tur Jiangsu “Travelogue of China 2026” Resmi Berakhir, Soroti Inovasi, Keterbukaan, dan Pembangunan Berorientasi pada Masyarakat
PT Otto Media Grup Gandeng Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand, Kreator, dan Rantai Pasok
Tangkap Hakim Harus Izin Ketua MA, Wamenkum: Jaga Independensi Kehakiman
Buronan Interpol Ditangkap Imigrasi di Bali, Sempat Kabur Naik Jet Pribadi lalu Dipaksa Putar Balik
Edarkan Sabu Tempel di SPBU, 2 Kurir di Jakbar Dijanjikan Upah Rp 20 Juta
BEM UI Bakal Demo di Bundaran HI Besok, Tuntut Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
©hak cipta2009-2020 Berita Hansen Mobile Games